Rabu, 30 Maret 2011

8 SIFAT KEPEMIMPINAN

1. Seperti BULAN PURNAMA ; cantik ,gagah , trendy, handsome, wellcome.
2. Sepert BINTANG dimalam yang terang , cita-citanya tinggi.
3. Seperti  MATAHARI menghidupi / menyinari /beri kehangatan dan beri semangat bagi semua.
4. Seperti API penerang /pembakar yang batil /pemasak yang mentah.
5. Seperti  ANGIN ,”lembut semilir” /menyejukan /menggugah / mendorong / anggota berpartisipasi.
6. Seperti TANAH tegar/teguh pendiriannya tapi luwes pembawaannya.
7. Seperti SAMUDERA mampu menerima air dari berbagai penjuru /segala warna, segala aroma!!
    Pada  akhirnya disatukan jadi satu warna .Dapat menghimpun segala aspirasi anggota!!
8. Seperti IKAN LAUT YANG HIDUP .hilir mudik di alam luas dan bebas , tapi tidak asin.Luas dan luwes,
    Jujur dan bertanggung jawab.

KI HAJAR DEWANTORO

Ki Hajar Dewantara Lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Ia berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Semenjak saat itu, ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya.
Perjalanan hidupnya benar-benar diwarnai perjuangan dan pengabdian demi kepentingan bangsanya. Ia menamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda) Kemudian sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar antara lain Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya sangat komunikatif, tajam dan patriotik sehingga mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya. Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, Beliau juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Pada tahun 1908, Beliau aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara.